RSS
Taut
28 Des

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Al-Qur’an bukanlah merupakan sebuah “BUKU” dalam pengertian umum karena ia tidak pernah diformulasikan, tetapi diwahyukan secara berangsur angsur kepada Nabi Muhammad SAW, sejauh situasi –situasi menuntunnya. Al-Qur’an pun sangat menyadari kenyataan ini sebagai suatu yang akan menimbulkan keusilan dan pembantahnya seperti yang diyakini sampai sekarang pewahyuan Al-Qu’an secara total dalam sekali waktu secara sekaligus adalah suatu yang tidak mungkin, karena pada kenyataan Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi kaum muslim secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang timbul.

Dan untuk lebih mengetahui atau memahmi maksud Al-Qur’an secara utuh lebih utama adalah harus mengetahui latar belakang turunya Al-Qur’an. karena orang akan salah menangkap pesan-pesan Al-qur’an secara utuh, jika hanya memahami bahasanya saja, tanpa memahami konteks historisnya.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian dari asbabun nuzul itu?
    2. Apa kegunaan mengetahui asbabun nuzul?
    3. Apa saja redaksi asbabun nuzul?

C. Tujuan Masalah

  1. Untuk mengetahui pengertian dari asbabun nuzul.
  2. Untuk mengetahui kegunaan dari asbabun nuzul.
  3. Untuk mengetahui redaksi dari asbabun nuzul.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ASBABUN NUZUL

Asbabun nuzul berasal dari kata asbab اسْبَاب (tunggal),berarti alasan atau sebab. Sedangkan نزول berasal dari kata نزل yang artinya turun. Asbab an-nuzul berarti pengetahuan tentang sebab-sebab diturunkannya suatu ayat. Ada juga yang berpendapat Asbabun Nuzul adalah:

مَا نُزِلَتِ الآيَةُُ اَوِ الآيَاتُ بِسَبَبِهِ مُتَضَمِّنَةً لَهُ اَوْ مُجِيْبَةً عَنْهُ اَوْ مُبَيِّنَةً لِحُكْمِهِ زَمَنَ وُقُوْعِهِ

“Sesuatu yang sebabnyalah turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya peristiwa itu.”

Yakni, suatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi SAW. Atau sesuatu pertanyaan yang dihadapkan kepada Nabi, dan turunlah satu atau beberapa ayat dari Allah S.W.T. yang berhubungan dengan kejadian itu atau dengan penjawaban pertanyaan itu. Baik peristiwa itu merupakan pertengkaran ataupun merupakan kesalahan yang dilakukan maupun suatu peristiwa atau suatu keinginan yang baik.

Menurut Al-Zarqani, asbab an-nuzul adalah “Suatu kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat. Atau suatu peristiwa yang dapat di jadikan petunjuk hukum berkenaan turunnya suatu ayat.”

Jadi, Asbabun nuzul adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat Al-Qur’an diturunkan. Makna Asbabun Nuzul secara lengkap yaitu: “Kejadian yang karenanya diturunkan ayat Al-Qur’an untuk menerangkan hukumnya dihari timbulnya kejadian-kejadian itu dan suasana, yang di dalam suasana itu Al-Qur’an diturunkan serta membicarakan sebab yang tersebut itu, baik diturunkan langsung sesudah terjadi sebab itu, ataupun kemudian lantaran suatu hikmah.

Yang jika dipandang secara etimologi maka Asbab An-Nuzul didefinisikan sebagai sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Asbabun Nuzul yang dimaksudkan disini adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya Al Quran.

Sebab-sebab turunnya ayat dalam bentuk peristiwa ada tiga macam yaitu:

  1. peristiwa berupa pertengkaran, contohnya perselisihan antara Suku Aus dan Suku Khazraj, perselisihan itu timbul dari intrik-intrik yang ditiupkan orang-orang Yahudi sehingga mereka berteriak-teriak: “senjata, senjata”. peristiwa tersebut menyebabkan turunnya beberapa ayat Surah Al-Imran diantaranya adalah ayat 100 yaitu:

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

  1. peristiwa berupa kesalahan yang serius, contohnya peristiwa seorang yang mengimani shalat  sedang mabuk sehingga sehingga salah dalam membaca surah Al-Kafirun ia baca

قل يا ايهاا لكافرون. اعبد ما تعبدون

 .          ia tidak mengambil huruf   لا pada kata         لا اعبد

peristiwa ini menyebabkan turunnya ayat 43 Surah An-Nisa:

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub[301], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.[301]

Menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi.

  1. peristiwa berupa cita-cita dan keinginan, seperti persesuaian-persesuaian (muwafaqat) Umar bin Al-Khattab dengan  ketentuan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam sejarah, ada beberapa harapan Umar yang dikemukakan  kepada Nabi Muhammad. Kemudian turun ayat-ayat yang kandungannya sesuai dengan harapan –harapan Umar tersebut, contohnya yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Anas ra. bahwa Umar berkata: “Aku sepakat dengan Tuhanku dalam tiga hal: Aku katakana kepada rasul, bagaimana sekiranya jika kita jadikan makam Ibrahim tempat shalat; maka turunlah ayat:

و تخذوا من مقام ابرا هيم مصلى

Sebab-sebab turunnya ayat yang dalam bentuk pertanyaan ada tiga macam yaitu:

1)      pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang telah lalu

2)      pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada waktu itu

3)      pertanyaan yang berhubungan dengan masa yang akan datang.

 

  1. B.  Kegunaan mengetahui asbabun nuzul

Asbab An-Nuzul mempunyai arti penting dalam menafsirkan Al-Qur’an. Al-Wahidi berkata:

لَا يُمْكِنُ مَعْرِفَةُ تَفْسِيْرِ الآيَةِ دُوْنَ الوُقُوْفِ عَلَى قِصَتِّهَا وَبَيَانِ نُزُوْلِهَا

“tidak mungkin menetahui tafsir ayat, jika tidak dilengkapi dengan pengetahuan tentang peristiwa dan penjelasan yang berkaitan dengan diturunkannya suatu ayat.”

Pendapat Ibnu Daqiq Al-‘Ied:

بَيَانُ سَبَبِ النُّزُوْلِ طَرِيْقٌ قَوِيٌّ فِى فَهْمِ مَعَانِى القُرْآنَ

“penjelasan terhadap asbabun nuzul merupakan metode yang kuat untuk memahami makna Al-Qur’an”

Jadi, seseorang tidak dapat mencapai pemahaman yang baik jika tidak memahami riwayat asbabun nuzul.

fungsi mengetahui asbabun nuzul antara lain sebagai berikut:

1)      Untuk mengetahui hikmah dan rahasia dibalik disyariatkannya suatu hokum

seperti penghapusan minuman keras secara bertahap:

  •      •  •      

“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan” (Q.S An-Nahl:67 )

          ••                   

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (Q.S Al-Baqarah:219)

             •                                •    • 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (Q.S An-Nisa: 43)

                                     

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Q.S Al-Maidah:90-91)

2)      Membantu memberikan kejelasan dalam memahami Al-Qur’an dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab turunnya.

Misalnya Urwah bin zubair mengalami kesulitan dalam memahami hukum fardhu sa’i , antara shafa dan marwah.

•                      •    

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah . Maka Barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha mengetahui.”(Q.S Al-Baqarah: 158)

Urwah bin zubair kesulitan memahami “tidak ada dosa” (لا جناح) didalam ayat ini. Ia lalu menanyakan kepada Aisyah perihal ayat tersebut, lalu Aisyah menjelaskan bahwa peniadaan dosa disitu bukan peniadaan hukum fardhu , peniadaan disitu dimaksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan yang telah mengakar dihati kaum muslimin ketika itu, bahwa melakukan sa’i antara shofa dan marwah termasuk perbuatan jahiliyah. Keyakinan ini di dasarkan atas pandangan bahwa pada masa sebelum islam, dibukit shofa terdapat sebuah patung yang disebut isaf dan dibukit marwah ada sebuah patung yang disebut nailah. Jika melakukan sa’i antara dua bukit itu orang-orang jahiliyah sebelumnya mengusap kedua patung tersabut. Ketika umat islam lahir, patung tersebut dihancurkan, dan sebagian umat islam enggan melakukan sa’i ditempat itu, maka turunlah ayat ini.

3)      mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an, jika hukum tersebut dinyatakan dalam bentuk umum.

Ini bagi mereka yang berpendapat Al-Ibrah bil khusus as-sabab la bi ‘umum al-lafzi (yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus, bukan lafaz yang umum). Contoh

 •     •       •        

“janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Q.S Ali Imran: 188)

Diriwayatkan bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya, “Pergilah, hai rafi’, kepada Ibnu Abbas dan katakan kepadanya, sekiranya setiap orang di antara kita bergembira dengan apa yang telah kita kerjakan dan ingin dipuji dengan perbuatan yang yang belum dikerjakan itu akan disiksa, niscaya kita semua akan disiksa. “Ibnu Abbas berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan ahli kitab. Kemudian ia membaca ayat

       • ••              

Lalu Ibnu Abbas melanjutkan ,”rasulullah menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, tetapi mereka menyembunyikannya, dengan mengalihkan kepada persoalan lain. Itulah yang mereka tunjukkan kepada beliau. Kemudian mereka pergi, mereka menganggap bahwa mereka telah diberitahukan kepada Rasulullah apa yang ditanyakan kepada mereka. Dengan perbuatan itu mereka ingin dipuji oleh Rasulullah dan mereka bergembira dengan apa yang mereka kerjakan, yaitu menyembunyikan apa yang ditanyakan kepada mereka itu.”

4)      Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat, serta untuk memantapakn wahyu kedalam hati orang yang mendengarnya.

Hal ini karena berhubungan sebab akibat hukum, peristiwa dan pelaku, masa dan tempat merupakan satu jalinan yang dapat mengikat hati

 

C. REDAKSI ASBABUN NUZUL

Redaksi riwayat asbabun nuzul terbagi menjadi dua bagian , yaitu :

a.pasti (shorih)

Bentuk redaksi ini antara lain:

سَبَبُ نُزُوْلِ هذِهِ الآيَةُ كَذَا…

“Sebab turun ayat ini adalah….”

Atau ia menggunakan kata (maka) “fa ta’qibiyah” Setelah ia mengatakan peristiwa tertentu, misalnya:

حَدَثَ هذَا … فَنَزَلَتِ الآيَةُ …

“Telah terjadi….Maka turunlah ayat….”

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ عَنْ كَذَا … فَنَزَلَتِ الآيَةُ …

“Rasulullah pernah ditanya tentang….Maka turunlah ayat….”

b.muhtamil (tidak pasti)

نُزِلَتْ هذِهِ الآيَةُ فِى كَذَا …

“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan…”

اَحْسَبُ هذِهِ الآيَةُ نُزِلَتْ فِى كَذَا …

“Saya kira ayat ini diturunkan berkenaan dengan….”

مَا اَحْسَبُ نَزَلَتْ هذِهِ الآيَةُ إِلَّا فِي كَذَا …

“Saya kira ayat ini tidak diturunkan, kecuali berkenaan dengan….”

BAB III

PENUTUP

  1. 1.      Kesimpulan

Dari uraian makalah ini, penulis mengambil suatu kesimpulan

  1. Pengertihan asbabun nuzul

Asbabun Nuzul adalah suatu kejadian yang menyebabkan (melatar belakangi) turunnya suatu atau beberapa ayat

  1. Kegunaan Asbabun Nuzul
  2. Mengetahui hikmah dan rahasia dibalik disyariatkannya suatu hokum
  3. Memberikan kejelasan dalam memahami Al-Qur’an dan menyimhkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab turunnya
  4. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an
  5. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat

 

  1. 2.      Saran

Demikiankah makalah yang dapat penulis susun, penulis sangat menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan. Maka kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi membangun perbaikan dan pengembangan. Dan semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita dan semoga bermanfaat. Amin

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

azarasidi.blogspot.com/2010/12/asbabun-nuzul.html

http://hiezbi.blogspot.com/2011/12/pengertian-asbabun-nuzul.html

http://santrikuliah.blogspot.com/2009/12/pengertian-asbabun-nuzul.html

http://zakiacuteharrier.blogspot.com/2012/01/asbabun-nuzul-al-quran.html

http://almanaar.wordpress.com/2007/12/10/manfaat-mengetahui-asbabun-nuzul/

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 28, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: