RSS
Taut
28 Des

BAB I

Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan merupakan mukjizat paling monumental sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Al-Qur’an merupakan mukjizat yang bersifat kekal berbeda halnya dengan mukjizat-mukjizat para Nabi terdahulu. Al-Qur’an akan tetap terjaga keasliannya sepanjang masa dan tidak ada seorang pun yang mampu menyamai kehebatan Al-Qur’an dari segi tata bahasanya. Hal ini menjadi bukti bahwa Al-Qur’an benar-benar wahyu dari Allah.

Seperti telah kita ketahui bahwa Al-Qur’an diterima oleh Rasulullah SAW dalam kurun waktu 23 tahun yaitu ada yang diturunkan ketika Rasul berada di Makkah dan ada yang diturunkan ketika Rasul berada di Madinah. Pada saat Al-Qur’an diturunkan di Makkah, yakni pada awal pengangkatan (menjadi Nabi), kaum muslimim masih sedikit, sementara kaum musyrikin begitu banyak. Sehingga untuk berdialog dengan orang kafir harus memakai gaya bahasa yang tepat juga diperlukan suatu metode yang khusus.

Al-Qur’an turun di Makkah sebagai pembela minoritas, yakni orang-orang Islam dan penolong serta mempertahankan mereka di tengah lingkungan musuh-musuh yang musyrik.

Kemudian Rasulullah SAW hijrah bersama masyarakat tersebut dan beliau menemui masyarakat muslim yang lain di Madinah. Al-Qur’an diturunkan kepada orang-orang Islam di Madinah, menjelaskan hukum-hukum agama dan meletakkan kaidah-kaidah serta membangun masyarakat dan meletakkan dasar-dasar kekuatan.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, sebagian besar waktu Rasulullah dihabiskan di Makkah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

Artinya: ”dan Al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian” [al-israa: 106]

Oleh karena itu secara umum para ulama rahimahumullahu membagi Al-Qur’an menjadi dua bagian: makkiyah dan madaniyah. Makkiyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi muhamamd shallAllahu ‘alaihi wa sallam sebelum berhijrah ke Madinah. Madaniyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam setelah berhijrah ke Madinah.

Dengan dasar ini, maka firman Allah subhanahu wa ta’ala.

Artinya: “pada hari ini telah ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah ku-cukupkan kepadamu ni’mat-ku, dan telah ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [al-ma’idah: 3]

Termasuk ayat madaniyah walaupun diturunkan Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada haji wada’ di arafah. Dalam kitab shahih bukhari diriwayatkan dari umar radhiyAllahu ‘anhu bahwasanya dia mengatakan: “kami tahu hari itu dan tempat wahyu tersebut turun kepada Nabi shallAllahu ‘alaihi wa sallam. Wahyu tersebut turun sementara Rasulullah sedang berdiri berkhutbah hari jum’at di padang arafah”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Makiyyah dan Madaniyyah.

Studi tentang ayat- ayat Makkiyah dan Madinyah sesungguhnya tidak lebih dari memahami penggelompokan ayat- ayat Al-Quran berdasarkan waktu dan tempat turunya sebuah atau beberapa buah ayat Al-Quran. Al-Qur’an turun kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur dalam jangka waktu dua puluh tiga tahun dan sebagian besar diterima oleh Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Mekah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيْلاً

“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa’: 106)

Oleh karena itu para ulama membagi Al-Qur’an menjadi dua bagian, yaitu : Makkiyah dan Madaniyah. Makkiyah adalah wahyu (surat dan ayat) yang diturunkan kepada Nabi Muhamamd SAW sebelum berhijrah ke Madinah, yaitu 12 tahun 5 bulan 13 hari. Yakni dari 17 Ramadhan tahun 41 dari Milad hingga awal Rabi’ul awwal tahun 54 dari Milad Nabi. Madaniyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW setelah berhijrah ke Madinah. Yaitu selama 9 tahun 9 bulan 9 hari. Yaitu dari permulaan Rabi’ul Awal tahun 54 dari Milad Nabi , hingga 9 Dzulhijjah tahun 63 dari Milad Nabi, atau tahun 10 Hijra.

Berdasarkan hal tersebut maka firman Allah ‘Azza wa Jalla:

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (Al-Maa’idah: 3)

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 (dua puluh tiga) tahun. Ayat-ayat dan suart-surat dalam Al-Qur’an terbagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan perbedaan tempat turunnya, waktu, sebab dan kondisinya.

Sebagian besar surat dan ayat Al-Qur’an itu Makkiyah dan sebagian lagi Madaniyah. Surat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah disebut surat Makkiyah dan yang diturunkan setelah Nabi hijrah disebut surat Madaniyah. Walaupun turunnya di luar kota Madinah, atau bahkan dikota Mekah itu sendiri. Surat Makkiyah merupakan bagian terbesar dari surah-surah Al-Qur’an, khususnya surat-surat pendek.

Sebagian surat dan ayat Al-Qur’an ada yang diturunkan ketika Nabi sedang melakukan perjalanan (safar), dan sebagian lagi ketika beliau tidak sedang dalam bepergian. Begitu juga ada yang diturunkan diwaktu malam hari dan ada yang turun di waktu siang hari. Ada yang turun diwaktu perang dan ada juga yang turun diwaktu damai. Ada yang turun dibumi dan ada yang turun dilangit. Ada yang turun ketika nabi berada ditengah-tengah orang banyak dan ada yang turun ketika beliau sedang sendirian.

Pengertian Surat Makiyah dan Madaniyah Ada tiga pengertian yang dipakai para ulama’ dalam mengartikan surat makiyah dan madaniyah, yaitu :

Pertama: Surat Makiyah adalah yang diturunkan di Makkah walaupun turunnya itu setelah hijrah. Yang termasuk turun di Makkah adalah daerah-daerah yang masih dalam kawasan Makkah, seperti di Mina, Arafah, dan Hudaibiyah.

Sedangkan surat Madaniyah adalah yang diturunkan di Madinah. Yang termasuk turun di Madinah adalah seperti di kawasan Badar dan Uhud. Pembagian ini berdasarkan tempat turunnya Al-Qur’an (segi makani), tetapi hal ini tidak bisa dijadikan patokan atau batasan, karena hal ini tidak mencakup ayat-ayat yang diturunkan di selain Makkah dan Madinah. Tidak diragukan lagi bahwa tidak adanya batasan dalam pembagian itu menyebabkan tidak masuknya sejumlah ayat yang diturunkan diantara keduanya. Dan yang demikian ini mengandung cacat.

Kedua: Surat Makiyah adalah yang mengkhitobi penduduk Mekkah, sedangkan ayat Madaniyah adalah yang mengkhotobi penduduk Madinah. Dari pengertian ini, dapat difahami bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai dengan ياايهاالناس adalah ayat Makiyah, dan ayat-ayat yang dimulai dengan ياايهاالذين امنوا adalah termasuk ayat Madaniyah. Karena kebanyakan orang kafir itu dari penduduk Makkah, meskipun dari penduduk Madinah juga ada yang kafir.

Sedangkan orang-orang yang beriman kebanyakan dari penduduk Madinah, walaupun dari penduduk Mekah juga ada yang beriman. Pembagian ini didasarkan pada mukhotobnya (segi khitobi), tetapi ketentuan tadi mengecualikan dua hal :

1. Tidak adanya patokan dan batasan. Sebenarnya permulaan surat dalam Al-Qur’an tidak hanya dimulai dengan salah satu kedua lafadz tersebut. Sebagaimana dalam permulaan suratal-Munafiqun: اذاجاءك المنافقون قالوانشهدانك لرسول الله والله يعلم انك لرسوله والله يشهد ان المنا فقين لكادبون. (المنا فقون:1) Artinya : “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu,mereka berkata:”Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul Allah”. Dan Allah mengetahui sesungguhnya kamu benar-benar Rosul-Nya; Dan Allah mengetahui sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.(QS.Al-Munafiqun:1).

2. Pembagian ini tidak berlaku secara umum dalam kedua sighot tersebut, melainkan terdapat ayat-ayat Madaniyah yang dimulai dengan sighot “Yaa Ayyuhan Naasu”dan terdapat ayat-ayat Makiyah yang dimulai dengan “Yaa Ayyuhal Ladziina Amanu”. Contoh yang pertama QS. An-Nisa’. Sebenarnya surat ini termasuk surat Madaniyah, namun permulaannya “Yaa Ayyuhan Nasu taku Robbakum”. Sedangkan contoh yang kedua adalah QS. Al-Hajj. Sebenarnya surat ini termasuk dalam kelompok surat Makiyah. Namun pada bagian akhir terdapat : يـــا ايها الذ ين امنوا ار كعوا واسجد وا . Sehingga sebagian ulama mengatakan, apabila yang dimaksud adalah sebagian besar ayat itu dimulai dengan ungkapan tersebut, maka yang demikian itu adalah benar.

Ketiga: Ayat Makiyah adalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum nabi hijrah, walaupun turunnya di lain kota Mekah. Sedangkan ayat Madaniyah adalah yang diturunkan setelah nabi hijrah, walaupun turunnya di Makkah. Pembagian ini dilihat dari waktu turunnya (segi zamani). Pembagian ini adalah pembagian yang benar dan selamat dari cacat, karena di sini terdapat patokan dan batasan yang barlaku secara umum.Oleh karena itu,kebanyakan ulama’ berpegang pada pendapat ini. Sebagaimana firman Allah SWT: اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا Artinya : “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamu,dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu menjadi agama bagimu.(Al-maidah:3) Ayat ini diturunkan pada hari Jum’at di Arafah ketika haji Wada’, tetapi ayat ini termasuk ayat madaniyah.

Sekalipun definisi di atas pada dasarnya merupakan bagian dari usaha pengklasifikasian ayat- ayat Al- Quran. Dengan pengklasifikasian yang teliti berdasarkan tempat dan waktu turunya ayat, akan diketahui ayat-ayat mana saja yang turun lebih dahulu dan turun kemudian.

  1. Faedah Mengetahui Surat Makiyah dan Madaniyah

Selanjutnya akan diketahui pula kronologi turunnya ayat atau ayat- ayat tertentu. Dari pengetahuan mengenai Makkiyah dan Madaniyah ini, sekurang- kurangnya ada beberapa faidah dalam mengetahui surat makiyah dan madaniyah, yaitu :

  1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan mentafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan mana nasikh dan mana mansukh bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Contoh: والذين يتوفّون منكم ويذرون ازواجا وصية لازوجهم متاعا الى الحول(البقرة :240) Dinasikh dengan ayat: يتربصن بانفسهن اربعة اشهر وعشرا(البقرة :234) 2
  2. Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa sendiri.
  3. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rosululloh sejalan dengan sejarah dakwah beserta segala peristiwanya.
  4. Mengetahui tarikh tasyri’ dan pemantapan dalam mentasyri’kan hukum secara umum.
  5. Percaya bahwa AL-Qur’an telah sampai kepada kita terhindar dari perubahan dan pembelokan. Oleh karena itu perlu bagi orang-orang islam mengetahuinya dengan seksama, sehingga mereka bisa mengatahui, dan kemudian beralih mengetahui ayat-ayat yang diturunkan sebelum hijrah dan sesudah hijrah, ayat-ayat yang diturunkan pada siang hari dan pada malam hari,dst.
  6. Agar dapat meningkatkan keyakinan terhadap kebenaran, kesucian dan keaslian al-Qur’an.

Dr Subhi Shalih dalam bukunya “Mabahits fi Ulumil Qur’an” mengatakan bahwa faedah dari ilmu ini adalah:

  1. Dapat mengetahui fase-fase dari da’wah islamiyah yang ditempuh oleh Al-Qur’an secara berangsur-angsur dan sangat bijaksana.
  2. Dapat mengetahui situasi dan kondisi lingkungan masyarakat pada waktu turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya masyarakat Mekkah dan Madinah.
  3. Dapat mengetahui Uslub-uslub bahasanya yang berbeda, karena ditujukan kepada golongan-golongan yang berbeda.

Di setiap sudut atas lembaran Alqur’an selalu ditemukan keterangan surah al-makkiyah dan surah al-madaniyah. Demikian pula dalam Alquran dan Tarjamah sumbangan King Abdul Aziz Saudi Arabia, keterangan makkiyyah dan madaniyah ditulis secara khusus dalam muqaddimah. al-Makkiyah dan al-Madaniah merupakan salah satu tema penting dalam pembahasan ‘Ulum al-Qur`an. Semua ulama sejak dulu hingga sekarang tidak pernah melewatkan tema ini, khususnya dalam konteks penafsiran Al-Qur’an. Kepentingannya terasa sangat diperlukan terutama terkait dengan bagaimana memahami kandungan Al-Qur’an. Munculnya beberapa kekeliruan dalam penafsiran disinyalir karena tidak menggunakan pijakan kronologi sejarah pewahyuan, baik yang terkait dengan asbab al-nuzul, al-makkiyah dan al-madaniyah maupun al -nasikh wa al-mansukh. Istilah Makkiyyah dan Madaniyah sebenarnya diambil dari dua nama kota Makkah dan Madinah, tempat Rasulullah menerima wahyu Al-Qur’an. Penggunaan dua nama kota tersebut dalam tema ‘Ulum al-Qur`an dimaksudkan untuk menginformasikan ada wahyu yang turun di Makkah dan ada pula yang turun di Madinah atau di tempat lain.

  1. C.    Cara-cara Mengetahui Surat Makiyah dan Maddaniyah.

Untuk mengetahui surat Makiyah dan Madaniyah para ulama’ bersandar pada dua cara utama :

  1. Sima’i naqli (pendengaran seperti apa adanya), yakni melalui riwayat yang berasal dari sahabat dan tabi’in, karena Nabi saw. Tidak pernah menjelaskan ayat Makiyah dan Madaniyah. Hal ini karena umat Islam pada waktu itu tidak memerlukan keterangan seperti itu. Bagaimana mereka masih memerlukannya? Padahal mereka menyaksikan sendiri diturunkannya wahyu dan Al-Qur’an, menyaksikan tempat turunnya, waktunya, sebab-sebab diturunkannya secara jelas. “Yang sudah jelas tidak memerlukan penjelasan lagi.”
  2. Qiyasi ijtihadi (qiyas hasil ijtihad), yakni didasarkan pada ciri-ciri Makiyah dan Madaniyah. Apabila dalam surah Makki terdapat suatu ayat yang mengandung sifat madani atau mengandung peristiwa madani, maka dikatakan bahwa ayat itu madani. Dan apabila dalam surah madani terdapat suatu ayat yang mengandung sifat makki atau mengandung peristiwa makki, maka ayat tadi dikatakan sebagai ayat makki. Bila dalam satu surah terdapat ciri – ciri makki, maka  surah itu dinamakan surah makki. Demikian pula bila dalam satu surah terdapat ciri – ciri madani, maka surah itu dinamakan surah madani. Inilah yang disebut qiyas istihadi
    1. D.    Urgensi Pembagian Surat Makkiyah Dan Madaniyah

 

Madaniyah atau Makkiyah (penetapan aghlabiyah) dan penetapan berdasar pada surat apakah diawali dengan ayat yang turun di mekkah atau madinahsehingga ditentukan dengan berdasar pada muatan ayat awal pada surat,apakah Makkiyah atau Madaniyah (penetapan kontinuitas)Masih terkait dengan pengklasifikasian surat dalam A1-Qur’an.

Ternyata,banyak  manfaat  yang  didapatkan  dalam  menekuni  pengklasifikasiannya.diantaranya menurut al-Zarqani di dalam kitabnya yang berjudul Manahilul‘Irfan yaitu “kita dapat membedakan dan mengetahui ayat yang Manshuk danNasikh. Yakni, apabila terdapat dua ayat atau lebih mengenai suatu masalah,sedang  hukum  yang  terkandung  di  dalam  ayat-ayat  itu  bertentangan.

Kemudian dapat diketahui, bahwa ayat yang satu Makkiyah, sedang yanglainnya Madaniyah; maka sudah tentu ayat yang Makkkiyah itulah yangdinasakh oleh ayat yang Madaniyah, karena ayat yang madaniyah adalah yangterakhir turun”.

Urgensi mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut :

  1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al Qur`an. Sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar. Sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh, bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh yang tedahulu.
  2. Meresapi gaya bahasa Al-Quran dan memanfaatkannya dalam metode dakwah menuju jalan Allah. Sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi merupakan arti paling khusus dalam retorika. Karakteristik gaya bahasa makkiyah dan madaniyah dalam Al-Quran pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai pikiran dan perasaaannya serta menguasai apa yang ada dalam dirinya dengan penuh kebijaksanaan.
  3. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Qur`an. Sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik dalam periode Mekkah maupun Madinah. Sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Al-Qur`an adalah sumber pokok bagi peri hidup Rasulullah SAW, perihal hidup beliau yang diriwayatkan ahli sejarah harus sesuai dengan Al-Quran.
  4. Membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Dengan mengetahui kronologis Al-Qur’an seorang mufassir dapatmemecahkan makna kontrakdiktif dalam dua ayat yang berbeda yaitudengan konsep Nasikh-Mansukh.
  5. Pedoman bagi langkah-langkah dakwa. Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda pada ayat Makiyyah dan Madaniyyah  memberikan  informasi  metodologi  bagi  cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan mustami’. Memberi informasi tentang Sirah KenabianAl-Qur’an adalah rujukan Otentik bagi perjalanan Dakwah Nabiyang tidak diragukan lagi. Perjalanan dakwah Nabi ini berjalan seiringdengan penahapan turunnya wahyu baik di Mekkah atau Madinah.
  6. Dapat mengetahui dengan jelas sastra Al-Qur’an pada puncak keindahannya, yaitu ketika setiap kaum diajak berdialog yang sesuai dengan keadaan obyek yang didakwahi ; dari ketegasan, kelugasan, kelunakan dan kemudahan.
  7. Dapat mengetahui puncak tertinggi dari hikmah pensyariatan diturunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan prioritas terpenting kondisi obyek yang di dakwahi serta kesiapan mereka dalam menerima dan taat.
  8. Pendidikan dan pengajaran bagi para muballigh serta pengarahan mereka untuk mengikuti kandungan dan konteks Al-Qur’an dalam berdakwah, yaitu dengan mendahulukan yang terpenting di antara yang penting serta menggunakan ketegasan dan kelunakan pada tempatnya masing-masing
  9. Dapat membedakan antara nasikh dan mansukh ketika terdapat dua buah ayat Makkiyah dan Madaniyah, maka lengkaplah syarat-syarat nasakh karena ayat Madaniyah adalah sebagai nasikh (penghapus) ayat Makkiyah disebabkan ayat Madaniyah turun setelah ayat Makkiyah.

Kegunaan dan manfaat mengetahui Surat Makkiyah dan Surat Madaniyah banyak sekali dan merupakan cabang ilmu-ilmu Al-Qur’an yang sangat penting untuk diketahui dan dikuasai oleh seorang mufassir, sampai-sampai kalangan Ulama al-Muhaqqiqun tidak membenarkan seorang penafsir Al-Qur’an tanpa mengetahui ilmu Makkiyah dan Madaniyah.

  1. E.     Ciri-ciri Surat Makiyah dan Surat Madaniyah

Ciri-ciri khas untuk surat Makkiyah dan surat Madaniyah ada 2 macam, yaitu yang bersifat qath’i dan bersifat aghlabi.

Ciri-ciri khas yang bersifat qath’i dari surat Makkiyah adalah:

  1. Setiap surat yang mengandung ayat sajdah.
  2. Setiap surat yang didalamnya terdapat lafadh “kalla”. Lafadz ini di dalam Al-Qur’an telah disebutkan sebanyak 33 kali dalam 15 surat dan kesemuanya itu dalam separuh Al-Qur’an yang akhir.
  3. Setiap surat yang terdapat seruan ياايهاالناس kecuali Surat Al-Hajj ayat 77.
  4. Setiap surat yang terdapat kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, kecuali Surat Al-Baqarah.
  5. Setiap surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan Idris, kecuali surat al-Baqarah.
  6. Setiap surat yang dimulai dengan huruf tahajji (huruf hija’iyah), kecuali surat al-Baqarah dan Ali Imran. Mengenai surat ar-Ra’d ada dua pendapat. Jika dilihat dari segi uslub dan temanya, maka lebih tepat dikatakan surat Makiyah, tetapi sebagian ulama’ lain mengatakan surat Madaniyah.

Adapun ciri-ciri khas yang bersifat aghlabi dari surat Makkiyah adalah:

  1. Ayat-ayat dan surat-suratnya pendek-pendek, nada perkataannya keras dan agak bersajak.
  2. Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah SWT dan hari akhir serta menggambarkan keadaansurga dan neraka.
  3. Menyeru manusia berperangai mulia dan berjalan lempeng diatas jalan kebajikan.
  4. Mendebat orang-orang musyrikin dan menerangkan kesalahan-kesalahan pendirian mereka.
  5. Banyak terdapat lafadh qasam (sumpah).

Sedangkan ciri-ciri khas dari surat-surat Madaniyah yang bersifat qath’i adalah sebagai berikut:

  1. Setiap surat yang mengandung izin berjihad, atau ada penerangan tentang jihad dan penjelasan tentang hukum-hukumnya.
  2. Setiap surat yang menjelaskan secara terperinci tentang Hukum Pidana, Fara’idh, Hak-hak Perdata, peraturan-peraturan yang berhubungan dengan bidang keperdataan, kemasyarakatan dan kenegaraan.
  3. Setiap surat yang didalamnya menyinggung hal ihwal orang munafiq, kecuali surat Al-Ankabut.
  4. Setiap surat yang mendebat kepercayaan ahli kitab, dan mengajak mereka tidak berlebih-lebihan dalam beragama.

Selain empat ciri di atas, ada lagi ciri khas dari surat-surat Madaniyah yang bersifat aghlabi, yaitu sebagai berikut:

  1. Suratnya panjang-panjang, dan sebagian ayat-ayatnya pun panjang-panjang serta jelas dalam menerangkan hukum dengan mempergunakan uslub yang terang.
  2. Menjelaskan secara terperinci bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukkan hakikat keagamaan.
    1. Perbedaan antara Makkiyah dan Madaniyah
    2. Perbedaan Pada Konteks Kalimat.
      1. Kebanyakan ayat-ayat Makiyyah memakai konteks kalimat tegas dan lugas karena kebanyakan obyek yang didakwahi menolak dan berpaling, maka hanya cocok mempergunakan konteks kalimat yang tegas. Baca surat Al-Muddatstsir dan surat Al-Qamar. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan mempergunakan konteks kalimat yang lunak karena kebanyakan obyek yang didakwahi menerima dan taat. Baca surat Al-Maa’idah.
      2. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat pendek dan argumentatif, karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari, sehingga konteks ayatpun mengikuti kondisi yang berlaku. Baca surat Ath-Thuur. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan adalah ayat-ayat pendek, penjelasan tentang hukum-hukum dan tidak argumentatif, karena disesuaikan dengan kondisi obyek yang didakwahi. Baca ayat tentang hutang-piutang dalam surat Al-Baqarah.
      3. Perbedaan Pada Materi Pembahasan
        1. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang benar, khususnya yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyah dan iman kepada hari kebangkitan ; karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari hal itu. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah, karena obyek yang didakwahi sudah memiliki Tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka membutuhkan perincian ibadah dan muamalah.
        2. Penjelasan secara rinci tentang jihad berserta hukum-hukumnya dan kaum munafik beserta segala permasalahannya karena memang kondisinya menuntut demikian. Hal itu ketika disyariatkannya jihad dan timbulnya kemunafikan, berbeda halnya dengan aya-tayat Makkiyah.
        3. Karakteristik Ayat Makkiyah

Turunnya surat-surat makiyyah lamanya 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, dimulai pada 17 ramadhan 40 tahun usia Nabi (Februari 610 M).

Para ulama telah meneliti surat-surat makky dan madany, dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya, yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakan. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri tersebut. Adapun ketentuan makky ialah:

  1. Setiap surat yang di dalamnya mengandung “sajdah”.
  2. Setiap surat yang mengandung lafal “kalla”, lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Qur’an. Dan disebutkan dalam tiga puluh tiga kali dan lima belas surat.
  3. Setiap surat yang mengandung seruan ya-ayyuhan naasu dan tidak mengandung ya-ayyuhalladzina amanu, terkecuali surat al-hajj yang akhirnya terdapat ya-ayyuhalladzina amanu irka’u wasjudu (QS al-hajj: 77). Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah ayat makky.
  4. Setiap surat yang mengandung kisah para Nabi dan umat terdahulu kecuali surat al-baqarah.
  5.  Setiap surat yang mengandung kisah adam dan iblis, kecuali surat al-baqarah.
  6. Setiap surat yang dibuka dengan huruf-huruf hijaiyah, seperti alif lam mim, alif lam ra, ha mim dan lain-lain. Terkecuali surat al-baqarah dan ali imran, sedangkan surat ar-rad masih diperselisihkan.
  7. Sedang dari segi ciri tema dan gaya bahasa atau bisa juga disebut sebagai keistimewaan ayat makkiyah dapat diringkas sebagai berikut:
  8. Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksaannya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah.
  9. Penetapan dasar-dasar ibadah dan mu’amalah (pidana), etika, keutamaan-keutamaan umum. Diwajibkannya shalat lima waktu, juga diharamkan memakan harta anak yatim secara zalim, sebagaimana sifat takabur dan sifat angkuh juga dilarang, dan tradisi buruk lainnya.
  10.  Menyebutkan kisah Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang-orang yang mendustakan agama sebelum mereka; dan sebagai hiburan bagi Rasulullah sehingga ia tabah dalam menghadapi gangguan mereka.
  11. Suku katanya pendek-pendek disertai dengan kata-kata yang mengesankan, pernyataannya singkat, ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan.
  12. Karakteristik Ayat Madaniyah

Diantara ciri khusus dari surat-surat madaniyah ialah:

  1. Setiap surat yang berisi kewajiban atau had (sanksi).
  2. Setiap surat yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang munafik, terkecuali surat al-ankabut yang diturunkan di Makkah adalah termasuk surat makkiyah.
  3. Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog antara ahli kitab6, seperti dapat kita dapati dalam surat al-baqarah, an-nisa, ali imran, at-taubah dan lain-lain.
  4. Adapun keistimewaan yang terdapat pada surat madaniyah antara lain adalah sebagai berikut:
  5. Al-Qur’an berbicara kepada masyarakat Islam Madinah, pada umumnya berisi tentang penetapan hukum-hukum, yang meliputi penjelasan tentang ibadah, mu’amalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional baik diwaktu damai maupun perang, dan lain lain.
  6.  Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki diantara sesama mereka.
  7. Di dalam masyarakat Madinah tumbuh sekelompok orang-orang munafik, lalu Al-Qur’an membicarakan sifat mereka dan menguak rahasia mereka. Al-Qur’an menjelaskan bahaya mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, serta membeberkan media-media, tipuan-tipuan, serta strategi mereka untuk memperdaya kuam muslim. Di Makkah tidak terdapat kaum munafik, karena saat itu umat Islam sedikit, lemah, sementara orang-orang kafir secara terang-terangan memerangi mereka.
  8. Pada umumnya ayat-ayat dan surat-suratnya panjang dan untuk menggambarkan luasnya akidah dan hukum-hukum Islam. Orang-orang Madinah adalah orang-orang Islam yang menerima dan mendengarkan al Qur’an.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PUSTAKA

 

http://blog.uin-malang.ac.id/ivageje/2011/01/01/makkiyah-dan-madaniyah/

http://blog.uin-malang.ac.id/ivageje/2011/01/01/urgensi-pembagian-surat makkiyah-

http://marzokey.wordpress.com/2010/02/15/makki-dan-madani/

http://www.scribd.com/doc/44056070/Makalah-Makiyyah-dan-Madaniyah

http://darunnajah-cipining.com/wp-content/uploads/Ulumul%20Quran%20-%20Maki%20Madani.pdf

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 28, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: